Senin, 06 Oktober 2008

PERAYAAN IDUL FITRI YANG PROPORSIONAL



Entah bagaimana awal mulanya, budaya perayaan Idul Fitri di Indonesia berbeda dengan perayaan Idul Fitri di negara-negara muslim lainnya. Jika kita merujuk pada negara-negara Timur Tengah, yang tidak bisa dipungkiri merupakan kiblat ritual keislaman, disana perayaan Idul Fitri relatif sangat sederhana jika dibandingkan perayaan pada hari Idul Qurban. menurut saya perlu adanya pengkajian tentang adanya perbedaan ini, karena untuk hari yang terbilang raya, semestinya antar negara muslim memiliki kesamaan visi yang kemudian mengacu pada persatuan Islam sebagai rohmatan lil ‘alamin.


Anjuran bertakbir menjelang hari raya Ied.

Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan puasa itu, dan hendaklah kamu membesarkan Alloh (bertakbir) atas petunjukNya kepada kamu (QS, Al Baqoroh 185)

Sebutlah oleh kamu akan nama Alloh pada beberapa hari yang tertentu (QS, al baqoroh 203)

Ibnu ‘Abbas berpendapat bahawa yang dimaksud dengan beberapa hari tertentu itu adalah hari tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dulhijjah)


Pada hari raya Iedul Fitri dianjurkan mengumandangkan takbir pada saat Maghrib akhir bulan Romadlon, semalam suntuk hingga sebelum dilaksanakan shoat Ied keesokan harinya (1 malam).

Sedangkan pada hari raya Iedul Qurban dianjurkan mengumandangkan takbir sejak Maghrib tanggal 9 Dulhijjah hingga menjelang Maghrib tanggal 13 Dulhijjah (3 hari 4 malam). Keduanya tidak lepas dari pergantian hari secara perhitungan Hijriah dimana hari berganti pada saat memasuki waktu Maghrib (perhitungan Masehi, hari berganti pada saat pukul 24.00)


Dari anjuran bertakbir diatas sebenarnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, perayaan Iedul Qurban semestinya dirayakan lebih semarak. Hal ini cukup beralasan dengan dihukuminya haram bagi muslim yang berpuasa di hari-hari tasyriq. Hari-hari tasyriq ialah hari makan, minum dan mengingat Alloh (HR. Muslim).



Baiklah, memang tidak ada salahnya merayakan Iedul Fitri demikian semaraknya, namun apakah hal yang demikian lebih mendatangkan kebaikan daripada kemudlorotan?


1. Persiapan Iedul Fitri

Iedul fitri demikian dinanti-nantikannya sehingga diperlukan banyak persiapan khusus untuk menyambutnya. Budaya membuat penganan, membeli baju baru, memperbaiki rumah menjadi hal yang jamak di Indonesia. Apa yang kemudian terjadi adalah umat menjadi kedodoran ibadah Ramadhannya menjelang penghabisan bulan penuh berkah itu.

Padahal Nabi mengencangkan ikat pinggangnya ketika memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Dari Aisyah Adalah Nabi saw, biasa beri’tikaf pada 10 hari yang akhir pada bulan Ramadhan sampai saat beliau wafat, kemudian istri-istri beliau ber’itikaf sesudah wafatnya beliau (HR Bukhoriy dan Muslim)


2. Pulang Kampung

Demikian semaraknya Iedul Fitri harus dirayakan sehingga dijadikan moment silaturohim keluarga. Ulama pun mengamini hal yang demikian, dan dengan dalil hablum minalloh wahablum minannaas manjadi lebih memperkokoh suatu pendapat.

Umat bersusah payah pulang kampung mengorbankan kekhusyu’an ibadah Ramadhan. Bahkan umat lebih memilih untuk memenfaatkan rukshoh (keringanan) untuk berbuka puasa dikarenakan sedang safar (dalam perjalanan).


3. Iklan, banner, baliho menyambut Iedul Fitri

Pusat perbelanjaan, televisi, media cetak sudah menggaungkan keceriaan di Iedul Fitri sejak pertengahan bulan Ramadhan, seolah-olah ingin menyampaikan “Ayo.. segeralah berlalu hai Ramadhan”. Bahkan sudah ada yang memasangnya sebelum Ramadhan datang (???). Seolah-olah iedul fitri adalah segala-galanya. Bukankah Nabi pernah berkata *Seandainya umatku mengetahui keistimewaan Ramadhan, niscaya mereka berharap agar semua bulan menjadi Ramadhan. *Barang siapa yang bergembira dengan kedatangan Ramadhan, maka diharamkan baginya api neraka. *Barang siapa yang menegakkan Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka dihapuskan semua dosanya yang telah lalu.

Sama sekali tidak disebut tentang Iedul Fitri di sini, dan kerinduan Nabi adalah pada Ramadhan Mubarok. Tapi kenapa Iedul Fitri menjadi segala-galanya? Jangan-jangan ada campur tangan musuh islam dibalik ini semua (???)


4. Puasa Sunnah di bulan Syawal

Barang siapa berpuasa ramadhan kemudian ia iringi dengan berpuasa 6 hari di bulan syawal maka (pahalanya) seperti berpuasa satu tahun (HR, Muslim). Dan yang dicontohkan oleh nabi adalah puasa pada tanggal 2 sampai 7 bulan syawal. Namun apa yang kita dapatkan? Kembali kita menyiasati suatu tuntunan. Seandainya ada yang melakukan sesuai dengan tuntunan nabi, itupun sangat sedikit jumlahnya. Kebanyakan dari kita berdalih bahwa 6 hari di bulan syawal itu tidaklah harus pada tanggal 2 hingga 7. Karena memang pada tanggal-tanggal tersebut, sangatlah tidak kondusif untuk melakukan puasa. Selain banyaknya makanan yang menggoda, budaya saling kunjung mengunjungi menjadikan puasa sunnah menjadi pilihan yang sulit.


Hal-hal yang seperti ini tentu tidak akan terjadi di negara-negara muslim lainnya. Dan mereka dapat menyempurnakan ibadah Ramadhan secara kaffah.


Akankah hal yang demikian harus terus kita budayakan? Harus ada pengkajian ulang tentang perayaan Iedul fitri yang kurang proporsional. Kita bisa menyimak berita seputar Iedul Fitri di media massa yang diwarnai dengan kecelakaan, perampokan, pembunuhan untuk biaya berlebaran. Dan kita tidak pernah sadar bahwa semua itu adalah imbas dari Iedul Fitri yang katanya adalah Hari Kemenangan (???).


Robbanaa, terimalah amalan Ramadhan kami, puasa kami, qiyamul lail kami, infaq sodaqoh kami, zakat kami dan sampaikanlah usia kami pada Ramadhan tahun depan.


Taqobbal Allohu minnaa waminkum, taqobbal yaa Kariim.

Mohon Ma’af.





Saya,

yang mencoba untuk merindukan kembali Ramadhan yang Mubarok

· terinspirasi dari keterangan Ust Iksan Tanjung, Mutiara Subuh ANTV, 15 Nopember 2004


Tidak ada komentar: