Entah bagaimana awal mulanya, budaya perayaan Idul Fitri di Indonesia berbeda dengan perayaan Idul Fitri di negara-negara muslim lainnya. Jika kita merujuk pada negara-negara Timur Tengah, yang tidak bisa dipungkiri merupakan kiblat ritual keislaman, disana perayaan Idul Fitri relatif sangat sederhana jika dibandingkan perayaan pada hari Idul Qurban. menurut saya perlu adanya pengkajian tentang adanya perbedaan ini, karena untuk hari yang terbilang raya, semestinya antar negara muslim memiliki kesamaan visi yang kemudian mengacu pada persatuan Islam sebagai rohmatan lil ‘alamin.
Anjuran bertakbir menjelang hari raya Ied.
Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan puasa itu, dan hendaklah kamu membesarkan Alloh (bertakbir) atas petunjukNya kepada kamu (QS, Al Baqoroh 185)
Sebutlah oleh kamu akan nama Alloh pada beberapa hari yang tertentu (QS, al baqoroh 203)
Ibnu ‘Abbas berpendapat bahawa yang dimaksud dengan beberapa hari tertentu itu adalah hari tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dulhijjah)
Pada hari raya Iedul Fitri dianjurkan mengumandangkan takbir pada saat Maghrib akhir bulan Romadlon, semalam suntuk hingga sebelum dilaksanakan shoat Ied keesokan harinya (1 malam).
Sedangkan pada hari raya Iedul Qurban dianjurkan mengumandangkan takbir sejak Maghrib tanggal 9 Dulhijjah hingga menjelang Maghrib tanggal 13 Dulhijjah (3 hari 4 malam). Keduanya tidak lepas dari pergantian hari secara perhitungan Hijriah dimana hari berganti pada saat memasuki waktu Maghrib (perhitungan Masehi, hari berganti pada saat pukul 24.00)
Dari anjuran bertakbir diatas sebenarnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, perayaan Iedul Qurban semestinya dirayakan lebih semarak. Hal ini cukup beralasan dengan dihukuminya haram bagi muslim yang berpuasa di hari-hari tasyriq. Hari-hari tasyriq ialah hari makan, minum dan mengingat Alloh (HR. Muslim).
Baiklah, memang tidak ada salahnya merayakan Iedul Fitri demikian semaraknya, namun apakah hal yang demikian lebih mendatangkan kebaikan daripada kemudlorotan?
1. Persiapan Iedul Fitri
Iedul fitri demikian dinanti-nantikannya sehingga diperlukan banyak persiapan khusus untuk menyambutnya. Budaya membuat penganan, membeli baju baru, memperbaiki rumah menjadi hal yang jamak di Indonesia. Apa yang kemudian terjadi adalah umat menjadi kedodoran ibadah Ramadhannya menjelang penghabisan bulan penuh berkah itu.
Padahal Nabi mengencangkan ikat pinggangnya ketika memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Dari Aisyah Adalah Nabi saw, biasa beri’tikaf pada 10 hari yang akhir pada bulan Ramadhan sampai saat beliau wafat, kemudian istri-istri beliau ber’itikaf sesudah wafatnya beliau (HR Bukhoriy dan Muslim)
2. Pulang Kampung
Demikian semaraknya Iedul Fitri harus dirayakan sehingga dijadikan moment silaturohim keluarga. Ulama pun mengamini hal yang demikian, dan dengan dalil hablum minalloh wahablum minannaas manjadi lebih memperkokoh suatu pendapat.
Umat bersusah payah pulang kampung mengorbankan kekhusyu’an ibadah Ramadhan. Bahkan umat lebih memilih untuk memenfaatkan rukshoh (keringanan) untuk berbuka puasa dikarenakan sedang safar (dalam perjalanan).
3. Iklan, banner, baliho menyambut Iedul Fitri
Pusat perbelanjaan, televisi, media cetak sudah menggaungkan keceriaan di Iedul Fitri sejak pertengahan bulan Ramadhan, seolah-olah ingin menyampaikan “Ayo.. segeralah berlalu hai Ramadhan”. Bahkan sudah ada yang memasangnya sebelum Ramadhan datang (???). Seolah-olah iedul fitri adalah segala-galanya. Bukankah Nabi pernah berkata *Seandainya umatku mengetahui keistimewaan Ramadhan, niscaya mereka berharap agar semua bulan menjadi Ramadhan. *Barang siapa yang bergembira dengan kedatangan Ramadhan, maka diharamkan baginya api neraka. *Barang siapa yang menegakkan Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka dihapuskan semua dosanya yang telah lalu.
Sama sekali tidak disebut tentang Iedul Fitri di sini, dan kerinduan Nabi adalah pada Ramadhan Mubarok. Tapi kenapa Iedul Fitri menjadi segala-galanya? Jangan-jangan ada campur tangan musuh islam dibalik ini semua (???)
4. Puasa Sunnah di bulan Syawal
Barang siapa berpuasa ramadhan kemudian ia iringi dengan berpuasa 6 hari di bulan syawal maka (pahalanya) seperti berpuasa satu tahun (HR, Muslim). Dan yang dicontohkan oleh nabi adalah puasa pada tanggal 2 sampai 7 bulan syawal. Namun apa yang kita dapatkan? Kembali kita menyiasati suatu tuntunan. Seandainya ada yang melakukan sesuai dengan tuntunan nabi, itupun sangat sedikit jumlahnya. Kebanyakan dari kita berdalih bahwa 6 hari di bulan syawal itu tidaklah harus pada tanggal 2 hingga 7. Karena memang pada tanggal-tanggal tersebut, sangatlah tidak kondusif untuk melakukan puasa. Selain banyaknya makanan yang menggoda, budaya saling kunjung mengunjungi menjadikan puasa sunnah menjadi pilihan yang sulit.
Hal-hal yang seperti ini tentu tidak akan terjadi di negara-negara muslim lainnya. Dan mereka dapat menyempurnakan ibadah Ramadhan secara kaffah.
Akankah hal yang demikian harus terus kita budayakan? Harus ada pengkajian ulang tentang perayaan Iedul fitri yang kurang proporsional. Kita bisa menyimak berita seputar Iedul Fitri di media massa yang diwarnai dengan kecelakaan, perampokan, pembunuhan untuk biaya berlebaran. Dan kita tidak pernah sadar bahwa semua itu adalah imbas dari Iedul Fitri yang katanya adalah Hari Kemenangan (???).
Robbanaa, terimalah amalan Ramadhan kami, puasa kami, qiyamul lail kami, infaq sodaqoh kami, zakat kami dan sampaikanlah usia kami pada Ramadhan tahun depan.
Taqobbal Allohu minnaa waminkum, taqobbal yaa Kariim.
Mohon Ma’af.
Saya,
yang mencoba untuk merindukan kembali Ramadhan yang Mubarok
· terinspirasi dari keterangan Ust Iksan Tanjung, Mutiara Subuh ANTV, 15 Nopember 2004
Senin, 06 Oktober 2008
PERAYAAN IDUL FITRI YANG PROPORSIONAL
Kamis, 02 Oktober 2008
Shof Officer
Malam terakhir Ramadhan tahun ini, malam ke 30. Masjid Al Falah masih menyisakan 4 shof jama’ah sholat tarawih. Ini merupakan satu prestasi tersendiri suatu bentuk keistiqomahan. 4 shof di masjid Al Falah bukanlah sedikit jumlahnya. Jika saya perkirakan dimensi panjang ruang utama masjid adalah kurang lebih 45 meter, sedangkan jarak yang diperlukan seorang jamaah berdiri sekitar 0.5 meter, maka malam itu masih ada sekitar 360 orang jama’ah putra melaksanakan sholat tarawih disana. Belum lagi jama’ah putrinya yang masih saja meluber hingga ke serambi bagian timur. Subhanalloh.
Ada hal menarik yang berhasil saya dapatkan dari obrolan saya dengan salah seorang jama’ah di sana. Melihat keaktifan beliau dalam sholat berjama’ah dan ternyata rumah tempat beliau tinggal juga lumayan jauh dari masjid (beliau mengendarai motor untuk pergi ke masjid), saya berinisiatif untuk menanyakan motifasi apa yang membuat beliau cukup istiqomah ke masjid.
Dari pangakuan beliau, kenapa semangat beliau tetap terjaga hingga malam terakhir adalah karena beliau senang dengan pengaturan shof di sana. Shof baru, dimulai dari tengah (jarak terdekat dengan imam) kemudian menyamping ke kanan dan kekiri. Shof baru, tidak akan dibentuk sepanjang shof terakhir belum benar-benar penuh. Aturan ini benar-benar diterapkan di sana. Walhasil, pengaturan shof disana benar-benar tertib. Kita tidak akan menjumpai shof yang “bogang" sebagaimana banyak ditemukan di masjid-masjid selama ini. Memang benar sekali apa yang dikatakan nabi bahwa “Lurus dan rapatnya shof adalah bagian dari tegaknya/keutamaan sholat”. Shof yang rapi membawa suasana hati semakin khusyu’ syahdu dalam moment-moment penghambaan ini.
Masjid Al Falah menerapkan satu kunci sukses dalam hal ini. PETUGAS PENGATUR SHOF atau istilah gaulnya SHOF OFFICER. Kecenderungan jama’ah untuk berlaku tidak menurut aturan, baik itu atas alasan ketidak tahuan ataupun kemalasan menjadi satu pertimbangan ta’mir untuk membentuk shof officer ini. Tidak jarang jama'ah berpandangan bahwa shof yang rapat akan menghalangi kekhusyukan sholat, dan ini perlu diluruskan. Kekhusyukan sholat diperoleh karena berlatih, dan shof yang paling benar bukan menuruti apa yang kita pikirkan, tetapi merujuk pada apa yang dicontohkan nabi. Ketika kita berjama'ah, tidak bisa dipungkiri pasti ada semangat-semangat individu yang mesti dikorbankan. Oleh karena itu sempatkanlah anda sholat berjamaah di sana, lebih terutama sholat-sholat jahr, dan bersiap-siaplah merelakan hati berjalan agak panjang untuk mengisi shof-shof kosong jika tidak mau berurusan dengan para shof officer ini. Mereka tidak akan segan menggeser atau mendorong anda jika anda kurang rapat dalam membentuk shof. Agak terasa aneh pada awalnya (bagi yang belum terbiasa) namun insya Alloh setelah kita menyadari betapa penting bentukan shof saat kita sholat berjama'ah, akan muncul kepuasan menjalankan sunnah nabi tercinta. Dan pada akhirnya tidak mustahil akan lahir motifasi seperti yang dialami bapak jama'ah di atas. Sukses buat para shof officer
Senin, 29 September 2008
Malam 29, Ramadhan 1429 H
Malam 29 bulan Ramadhan 1429 H, jumlah jama'ah yang melaksanakan i'tikaf di masjid Al Falah mencapai puncaknya. Jumlah ini melebihi jumlah-jumlah pada malam 25 dan 27 yang seperti tahun-tahun lalu merupakan malam-malam yang populer. Pertanyaan nakal yang berputar-putar di kepala saya, apakah ada korelasi malam 29 dengan tahun 1429 (?). Saya ataupun orang yang lain boleh jadi berpikiran demikian, namun nabi sama sekali tidak pernah mengajarkan hal-hal yang klenik seperti ini. Astaghfirulloh. Yang jelas saya bisa menggenarilisir motifasi jama'ah yang memilih untuk beri'tikaf di Masjid Al Falah adalah karena: di tempat ini sangat tidak familiar beri'tikaf di Masjid yang demikian terlarutnya hingga sadar atau tidak, menimbulkan kegaduhan yang pastinya mengganggu kekhusyu'an jama'ah yang lain.
Maka, untuk ukuran masjid dengan jumlah jama'ah beri'tikaf yang demikian lumayan, ketenangan dan kesyahduhan malam-malam yang dijanjikan masih bisa kita dapatkan.
A'isyah berkata : Aku bertanya, Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam lailatul qadar (terjadi) dan apa yang aku ucapkan?”, beliau menjawab:
“ALLAHUMA INNAKA ’AFFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FUA’ANNII"
(Ya Allah, Engkau maha pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku - HR: Tarmidzi 3760, Ibnu Majah 3850)
Untuk kesekian kalinya kegiatan i'tikaf di Al Falah masih tidak ada perubahan. Mungkin ta'mir sudah seharusnya mulai memikirkan innovasi-inovasi untuk mengisi kegiatan i'tikaf di Al Falah. Adalah ide yang menarik jika ta'mir dapat membentuk panitia untuk menkoordinasi kegiatan ini. Sebagaimana merujuk pada beberapa masjid yang sudah selangkah lebih maju, panitia sengaja dibentuk untuk memfasilitasi jama'ah ketika beri'tikaf pada 10 hari terakhir. Fasilitas tersebut dapat berupa makan sahur, dan cuci pakaian yang akan sangat dibutuhkan ketika jama'ah berniat untuk bermalam di masjid selama 10 hari penuh. Tentu ada biaya yang harus dikeluarkan oleh jama'ah untuk fsilitas yang seperti ini. Panitia juga dapat merancang beberapa tausiyah selama 10 hari i'tikaf ini. Dengan menambah frekwensinya pada jam-jam duha, ba'da duhur atau ba'da ashar. Atau panitia juga dapat mengkoordinasi qiyamul lail di sepertiga malam terakhir. Sempat bertanya-tanya, sebenarnya qiyamur romadlon nabi itu apakah dilakukan ba'da isya seperti jamak yang dilakukan sa'at ini? Bukankah nabi, benar-benar menghabiskan 10 hari terakhirnya di dalam masjid dan membatasi untuk kegiatan-kegiatan yang menyebabkan keluar dari masjid?
Jadi ingat trend baru untuk menyebut kegiatan i'tikaf ini. Beberapa teman dari harokah terterntu menyebut kegiatan i'tikaf pada 10 malam terakhir ini sebagai i'tikaf-i'tikafan (bukan i'tikaf yang sebenarnya, red). Hanya saja, pendekriditan ini boleh jadi berkonotasi untuk meremehkan kegiatan berdiam diri di malam-malam terakhir ramadhan ini, sehingga lebih mudah untuk meninggalkannya. Na'uzubillah.