Senin, 29 September 2008

Malam 29, Ramadhan 1429 H


Malam 29 bulan Ramadhan 1429 H, jumlah jama'ah yang melaksanakan i'tikaf di masjid Al Falah mencapai puncaknya. Jumlah ini melebihi jumlah-jumlah pada malam 25 dan 27 yang seperti tahun-tahun lalu merupakan malam-malam yang populer. Pertanyaan nakal yang berputar-putar di kepala saya, apakah ada korelasi malam 29 dengan tahun 1429 (?). Saya ataupun orang yang lain boleh jadi berpikiran demikian, namun nabi sama sekali tidak pernah mengajarkan hal-hal yang klenik seperti ini. Astaghfirulloh. Yang jelas saya bisa menggenarilisir motifasi jama'ah yang memilih untuk beri'tikaf di Masjid Al Falah adalah karena: di tempat ini sangat tidak familiar beri'tikaf di Masjid yang demikian terlarutnya hingga sadar atau tidak, menimbulkan kegaduhan yang pastinya mengganggu kekhusyu'an jama'ah yang lain.

Maka, untuk ukuran masjid dengan jumlah jama'ah beri'tikaf yang demikian lumayan, ketenangan dan kesyahduhan malam-malam yang dijanjikan masih bisa kita dapatkan.

A'isyah berkata : Aku bertanya, Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam lailatul qadar (terjadi) dan apa yang aku ucapkan?”, beliau menjawab:
“ALLAHUMA INNAKA ’AFFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FUA’ANNII"


(Ya Allah, Engkau maha pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku - HR: Tarmidzi 3760, Ibnu Majah 3850)


Untuk kesekian kalinya kegiatan i'tikaf di Al Falah masih tidak ada perubahan. Mungkin ta'mir sudah seharusnya mulai memikirkan innovasi-inovasi untuk mengisi kegiatan i'tikaf di Al Falah. Adalah ide yang menarik jika ta'mir dapat membentuk panitia untuk menkoordinasi kegiatan ini. Sebagaimana merujuk pada beberapa masjid yang sudah selangkah lebih maju, panitia sengaja dibentuk untuk memfasilitasi jama'ah ketika beri'tikaf pada 10 hari terakhir. Fasilitas tersebut dapat berupa makan sahur, dan cuci pakaian yang akan sangat dibutuhkan ketika jama'ah berniat untuk bermalam di masjid selama 10 hari penuh. Tentu ada biaya yang harus dikeluarkan oleh jama'ah untuk fsilitas yang seperti ini. Panitia juga dapat merancang beberapa tausiyah selama 10 hari i'tikaf ini. Dengan menambah frekwensinya pada jam-jam duha, ba'da duhur atau ba'da ashar. Atau panitia juga dapat mengkoordinasi qiyamul lail di sepertiga malam terakhir. Sempat bertanya-tanya, sebenarnya qiyamur romadlon nabi itu apakah dilakukan ba'da isya seperti jamak yang dilakukan sa'at ini? Bukankah nabi, benar-benar menghabiskan 10 hari terakhirnya di dalam masjid dan membatasi untuk kegiatan-kegiatan yang menyebabkan keluar dari masjid?


Jadi ingat trend baru untuk menyebut kegiatan i'tikaf ini. Beberapa teman dari harokah terterntu menyebut kegiatan i'tikaf pada 10 malam terakhir ini sebagai i'tikaf-i'tikafan (bukan i'tikaf yang sebenarnya, red). Hanya saja, pendekriditan ini boleh jadi berkonotasi untuk meremehkan kegiatan berdiam diri di malam-malam terakhir ramadhan ini, sehingga lebih mudah untuk meninggalkannya. Na'uzubillah.

Read More......